Persiapan Mental Menjelang Pernikahan

Jujur aja, makin ke sini udah nggak perlu lagi diingetin udah makan apa belum, maunya sih cukup diajak nikah aja. Iya kan? Perjalanan cinta masing-masing orang memang beragam. Ada yang semulus jalan tol, ada pula yang terjal macam jalan kampung, kadang becek penuh genangan air, kadang juga polisi tidurnya tinggi-tinggi. Sekalinya berjumpa dengan pasangan yang nyaman, pengennya cepet-cepet nikah, biar nggak kelamaan jadi fitnah. Tapi, sebelum menikah, kamu herus membekali diri dengan persiapan mental menjelang pernikahan, supaya hatimu makin mantab dalam mengarungi bahtera rumah tangga ke depannya.

 

Persiapan Mental Menjelang Pernikahan

Temukan mentor yang lebih berpengalaman

Di sekeliling kamu, pasti ada pasangan suami istri yang menjadi panutan kamu, bisa dari lingkup keluarga, misalnya orang tua, kakak, om tante, sepupu atau bahkan sahabat kamu yang keluarganya sejuk dan kamu anggap “couple goal” banget. Kamu bisa menjadikan mereka sebagai teman curhat untuk berbagi segala keluh kesah, nervous dan uneg-uneg pada saat mempersiapkan pernikahan. Wajar bila kamu merasa khawatir mengadapi acara paling sakral dalam hidup kamu yang semakin hari semakin dekat. Pangalaman dari para senior akan membuat kamu merasa tenteram dalam menyongsong hari bahagia itu.

Hargai perbedaan yang ada dan menerima segala kekurangan

Menikah adalah menyatukan dua pribadi yang berbeda. Dalam berumah tangga, pastinya akan menemukan perbedaan, dari perbedaan cara berpikir, kebiasaan, sampai hal-hal kecil sekalipun. Belajarlah untuk mulai ridho atas perbedaan-perbedaan itu, dan belajar pula untuk memaafkan. Iya, pasangan kita nggak mungkin sama persis dalam segala hal dengan kita. Kalau ada sedikit yang berbeda, terimalah dan berkembanglah bersama-sama untuk menjadi lebih baik. Karena setelah menikah nanti, kalian akan memiliki keterikatan satu sama lain.

Ikuti kursus pranikah

Kursus pranikah digelar untuk membekali calon pengantin dalam merespon problem perkawinan dan keluarga. Bimbingan perkawinan juga mempersiapkan calon pengantin agar terhindar dari konflik perkawinan yang umum terjadi, serta meningkatkan kemampuan mewujudkan keluarga sakinah.

Dikutip dari Kompas, Deputi Koordinasi Bidang Pendidikan dan Agama Kemenko PMK Agus Sartono menegaskan bahwa sertifikat bimbingan pranikah bagi pasangan calon pengantin tidak wajib dimiliki sebagai syarat pernikahan. Artinya, pasangan yang tidak mengikuti bimbingan pernikahan dan tidak mendapat sertifikat tetap bisa menikah. Walaupun tidak wajib, alangkah baiknya kalian mengikuti kelas ini karena bakalan banyak ilmu yang didapat.

Membicarakan tentang anak

Perlu diketahui, bahwa pernikahan dilangsungkan bukan hanya demi satu alasan yaitu punya anak. Banyak pasangan yang memang merencanakan untuk tidak memiliki momongan. Hal ini mungkin belum bisa sepenuhnya diterima oleh kita yang ada di Indonesia. Terdapat beragam alasan kenapa memilih untuk tidak punya anak, diantaranya karena faktor finansial, kesehtan, latar belakang keluarga, gaya hidup dan lain sebagainya.

Apakah kalian ingin punya anak atau tidak, sudah seharusnya komitmen penting ini dibicarakan sebaik mungkin dengan pasangan, supaya tidak menimbulkan cekcok setelah menikah nantinya.

Membicarakan tentang perencanaan keuangan

Perlu diketahui bahwa rumah tangga berjalan dengan baik jika keuangannya sehat. Untuk itu, sejak awal seharusnya kalian telah saling mengetahui kondisi keuangan masing-masing agar tidak terjadi salah paham. Kalian perlu saling terbuka satu sama lain. Singkirkan rasa minder dan malu ngobrolin gaji dan perencanaan keuangan keluarga ke depannya karena semua ini demi kebaikan kalian berdua.

Related Posts

No Response

Tinggalkan Balasan