Hena, antara Magis dan Ritual Adat

Hena atau inai adalah tumbuhan yang dipakai untuk mewarnai kuku dan melukis tangan. Sebenarnya ada 2 jenis tumbuhan yang sama-sama menghasilkan warna khas hena, yaitu tanaman inai (Lawsonia inermis) dan pacar (Impatiens balsamina). Banyak orang yang belum tahu kalau inai dan pacar adalah tanaman yang berbeda. Tanaman inai menjulang tinggi, mirip dengan tanaman delima, bahkan daunnyapun mirip sekali dengan delima. Pokok batangnya bisa mencapai 5 meter. Sedangkan pacar tanaman tanpa tulang kayu, yang tumbuh maksimal 50 cm saja. Namun daun kedua jenis tanaman di atas sama-sama mengandung zat pewarna yang apabila diekstrak menghasilkan warna jingga agak gelap.

hena

Saat ini inai tak hanya dipakai saat menjelang pernikahan saja. Seni melukis inai sudah meluas misal di dunia modeling, wisuda, acara formal ataupun non formal lainnya. Untuk ritual pernikahan, inai atau bainai mempunyai makna yang berbeda di masing-masing daerah.

Hena, antara Magis dan Ritual Adat

Dalam prosesi pernikahan adat, ritual hena atau berinai dilaksanakan sebelum pesta pernikahan, sebelum mempelai pria bertandang dan bertemu dengan mempelai wanita. Biasanya berinai dilakukan pada malam sebelum diselenggarakan pesta. Berikut beberapa prosesi melukis inai di beberapa wilayah di Indonesia.

Berinai Besar dan Tepung Tawar di Riau

Berinai dalam pernikahan adat Riau adalah ritual yang sangat bermkna dan tak boleh terlewatkan. Tak hanya di pernikahan adat, untuk pernikahan modern pun berinai masih dilakukan untuk mempercantik penampilan sang mempelai.

Malam berinai ini dilakukan sekira 3 hari menjelang hari pernikahan atau perkawainan. Kegiatan pada malam berinai ini diawali oleh Mak Andam mempersiapkan peralatan untuk berinai. Mak Andam adalah perias pengantin, sekaligus dipercaya sebagai pelindung kedua calon pengantin dari gangguan penyakit dan gangguan yang datang secara gaib. Terdengar sangat magis ya. Ritual berinai dapat menambah kecantikan atau ketampanan mempelai. Membuat raut penampilannya lebih berseri dari hari-hari biasanya. Karena sangat sakralnya prosesi berinai, diperlukan ketenangan dan kehati-hatian, sehingga tidak sembarang orang boleh masuk dan menyaksikan proses melukis inai di kamar pengantin.

Prosesi berinai biasanya diikuti dengan tepung tawar. Apa itu tepung tawar? Tepung yang kita pakai untuk memasakkah? Bukan. Tepung tawar adalah campuran beberapa bahan yang diramu untuk menyambut kedua mempelai. Ramuan tersebut terdiri dari bunga setaman, beras kuning, daun sidingin-dingin (cocor bebek), air, beras, ketan kuning yang sudah dimasak yang disebut dengan balai-balai atau gorai.

Boh Gaca, Body Painting-nya Pengantin Aceh

Tradisi boh gaca berasal dari India, yang dibawa ke Aceh sejak zaman Hindu, yang kemudian diteruskan oleh orang-orang gujarat dan Islam yang bermukim di Aceh. Boh gaca dilakukan pada malam sebelum pesta pernikahan. Kuku, jari-jari, telapak tangan dan kaki pengantin dilukis menggunakan hena dengan motif-motif tertentu yang sarat simbol dan arti.

Makna boh gaca dalam adat Aceh yaitu sebagai maklumat atau pemberitahuan kepada tetangga, sanak kerabat dan orang-orang di sekitar, bahwa anak gadisnya akan melepas masa lajang dan dipinang oleh laki-laki. Sekaligus bog gaca juga menandakan bahwa gadis yang dilukis hena tersebut masih gadis atau perawan.

Namun makna paling terasa dari tradisi boh gaca adalah mempererat silaturahmi antara keluarga mempelai. Di mana saat berlangsung boh gaca, semua anggota keluarga berkumpul bersama di kediaman mempelai putri.

Malam Bainai, Malam Terakhir Gadis Minangkabau

Secara harfiah bainai artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan menempel semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku. Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan malam hari sebelum besok paginya calon anak daro (sebutan untuk calon pengantin perempuan) melangsungkan akad nikah.

Menurut kepercayaan orang-orang tua dulu pekerjaan memerahkan kuku-kuku jari calon pengantin wanita ini juga mengandung arti magis. Menurut mereka ujung-ujung jari yang dimerahkan dengan daun inai dan dibalut daun sirih, mempunyai kekuatan yang bisa melindungi si calon pengantin dari hal-hal buruk yang mungkin didatangkan manusia yang dengki kepadanya.

Sebebarnya masih banyak daerah di Indonesia yang menggunakan tradisi hena, misalnya berpacar dari Palembang, pasang pacar di daerah Lampung, malem pacar di kebudayaan Betawi serta mapacci di Bugis-Makassar.

Hena sebagai budaya warisan leluhur, aset budaya bangsa sudah sepantasnya kita jaga keberadaannya, kita kembangkan dan lestarikan. Bisa jadi suatu saat ada ide untuk membuat suatu wadah atau lembaga untuk menyalurkan bakat dan kreatifitas generasi muda dalam hal henna body painting mungkin?

 

Related Posts

No Response

Leave a Reply